Kalau di balap tidak dianjurkan. Karena dengan cara dilas yang manual seperti itu, akan berakibat pada berat sentrifugal yang tidak merata. Bisa jadi oleng atau godek.
Di motor balap, kruk as melintir sedikit harus dibalance atau dicenter ulang. Sebab kruk as oleng, durasi bukaan kem akan naik-turun dan bikin performa mesin tidak maksimal.
Kalau dipakai harian, memang masih bisa ditolerir. Karena bobot sentrifugal standar juga cukup berat. Masih enak buat nanjak. Namun kalau dipakai balapan dan menggunakan sentrifugal yang sudah dilas, akan berakibat akselerasi jadi berat.
Itu yang membuat motor kelas standar yang masih menggunakan magnet standar banyak lepas magnet. Paling yang dipakai hanya mangkuk atau luar rumah magnet.
Kamis, 20 Oktober 2011
Rumah Sentrifugal Jangan Dilas
Rumus Ukur Rasio Kompresi
Sering bicara kompresi, tapi tidak tahu angkanya dari mana. Itu sih sama aja bohong. Untuk tahu kompresi caranya gampang.
Tapi, kudu punya buret atau alat ukur cairan. Kalau susah mencarinya beli saja suntikan buat tinta printer.
Posisikan piston sedang top atau TMA (Titik Mati Atas). Kemudian celah piston dengan boring ditambal gemuk. Baru deh pasang kepala silindernya.
Posisikan mesin berdiri dan suntikkan oli sokbreker atau oli samping. Dari situ akan ketahuan berapa cc isi ruang bakarnya. Misalnya volume ruang bakar (Vrb) 10 cc.
Juga mesti tahu volume silinder. Misalnya volume silinder (Vs) hasil bore up 130 cc. Berarti rasio kompresi (Rk) yaitu:
Vs + Vrb
Rk = --------------
Vrb
130 cc + 10 cc
Rk = ------------------- = 14
10 cc
Jadi, rasio kompresinya 14 : 1. Sangat tinggi sekali, biar rendah, jenongnya piston dikurangi lagi agar isi ruang bakar bisa gede.
Gas Spontan Punya SE Paling Singkat
Lebih singkat biar nggak gampang capek
Prinsip kerja gas spontan dan grip standar enggak beda jauh. Menarik skep di dalam karbuartor. Cuma gas spontan lebih singkat, supaya rider tak harus bejek gas sampai telapak tangan ditekuk ke bawah. Jadi enggak pegal deh.
Ciri yang membedakan antara gas spontan dan biasa, diameter plastik pemutar tali gas. Punya gas spontan lebih besar, sehingga jarak penarikan skep atau pelintir gasnya tak harus dalam. “Paling cuma ¼ putaran dari standar yang harus putar grip sekitar ½ putaran. Baru deh piston skep karbu mentok,” lanjut pria tinggal di Kelapa Dua (akses UI), Depok.
Kenapa lebih singkat? Logikanya semakin besar diameter, keliling lingkaran gede. Sehingga menggulung tali gas lebih cepat. Seperti kita main layang-layang, kalau gulungan benang diameternya gede, lebih cepat menggulungnya.
Karena bentuk gulungan itu melingkar, maka rumusnya keliling lingkaran. Yaitu K = π x d. Di mana K = Keliling lingkaran, d = diameter gulungan dan π adalah ketetapan internasional yang besarannya adalah = 3,14.
Misal diameter gas spontan 4,3cm, sedang grip gas biasa diameternya 3,5cm. Setelah dihitung, lalu hasil keduanya dikurangi. Akan terlihat berapa selisihnya. Untuk grip gas spontan: r = Ï€ x d = 3,14 x 4,3cm = 13,502cm. Sedang grip gas biasa: r = Ï€ x d = 3,14 x 3,5cm = 10,99cm. Lalu dikurangi 13,502–10,99 = 2,512cm ini adalah selisihnya.
Tapi ingat, dari semua produk gas spontan di motor balap terbukti masih ada yang lebih singkat. “Biasanya dipakai di motor special engine (SE), lantaran diameter plastic penarik kabel gasnya lebih besar dari lainnya,” imbuh Teddy yang juga turun di kelas executive A dan pernah main grasstrack.
Perhatikan Celah Busi, Pengaruhi Kualitas Pembakaran
Apalagi kalau terlalu renggang. Kondisi itu bisa menyebabkan terjadinya missfire. Letikan api, tidak bisa mencipta pembakaran sempurna. Akhirnya, stasioner atau idle jadi enggak stabil.
Juga bisa bikin koil cepat mati. Karena gap renggang, koil dipaksa bekerja lebih keras. Begitu juga jika terlalu rapat. Putaran mesin bisa menjadi lebih berat dan bikin panas. Efek lainnya, ngelitik.
Beda Istilah Bore Up dan Stroke Up
Bore up yaitu menggunakan piston yang punya diameter lebih besar. Sehingga lubang atau bore di silinder diperbesar, agar piston bisa masuk. Karena bore yang diperbesar, makanya dikasih nama bore up. Kalau mengecilkan piston, namanya tentu jadi bore down.
Sedangkan istilah stroke up yaitu memperbesar stroke atau langkah piston. Biasa ditempuh dengan cara memindahkan posisi pin kruk as ke posisi luar.
Mau pilih mana kalau mengejar kapasitas sebesar-besarnya. Paling gampang pilih bore up karena angkanya dibuat kuadrat. Jadinya menghasilkan volume silinder yang lebih besar. Itu dihitung menggunakan rumus volume silinder.
Namun kita tidak bisa mendongkrak volume dengan menggunakan diameter yang sebesar-besarnya. Biar imbang dan torsi rpm bawah bisa dikail, harus diimbangi stroke up.
sumber : http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/07/01/320907/211/27/Beda-Istilah-Bore-Up-dan-Stroke-Up
Kamis, 14 Juli 2011
Awalnya MOTOR Plus ngebahas cop atau tutup busi Yamaha Jupiter-Z geberan Floyrianus Roy yang copot ketika balap. Padahal beberapa tunner bilang, biar nggak gampang lepas katanya diganti punya Mio yang matik. Lho, apa bedanya?
Pertanyaan itu lantas berbuntut panjang. Apalagi kalau penutup part pematik gas bakar memiliki keunggulan, bahkan juga bisa diaplikasi ke varian standar. Dan benar saja, Haris Saktie yang karib disapa Mletis, membeberkan perbedaan sekaligus keungulan keduanya.
“Cop busi Mio lebih rapat, sehingga kuat memegang kepala busi. Makanya dipakai di motor balap Yamaha. Tahu sendiri, motor balap getarannya tinggi. Kalau enggak didukung komponen yang tepat, bisa rugi,” jelas mekanik tim Yamaha Yamalube FDR KYT Trijaya itu.
Dipertegas cah Jogja, dulu sebelum pakai punya Mio karet pelindung di cop busi standar diikat cable tie biar tambah kuat. Meskipun sekarang sudah berkembang adanya pilihan cop busi satu set dengan kabel dan koil. Cuma harganya masih lumayan mahal.
Adapun perbedaan antara kedua komponen ini, dipaparkan Mletis kalau cop busi standar Jupiter-Z dengan Mio bisa diintip dari bentuknya masing-masing.
“Cop busi Mio lebih panjang dikit dari Jupiter-Z. Bahkan karet pelindung untuk memegang bodi busi dan sambungan ke kabel koil jauh lebih tebal dan juga rapat. Wajar kalau pegangan lebih kuat dan cocok untuk motor balap,” imbuhnya.
Eits....bukan cuma cop busi Mio aja lho yang bisa diaplikasi ke bebek Jupiter-Z. Kepala busi skubek seperti Honda BeAT juga bisa dicaplok kabel koil varian bebek Honda lainnya. Seperti ke Supra X sampai ke generasi Blade. Kebetulan ukuran (bukan kode) busi sama.
“Sudah banyak dan sering lakukan di bebek Honda. Apalagi kalau tunggangan sering lewat kubangan atau sering melibas banjir. Saya juga coba dan sudah buktikan kalau motor jarang mati mendadak kalau kena air,” timpal Abdul Syukur alias Adung, mekanik Honda BeAT Club Jakarta (HBCJ).
Dituturkan Adung, dilihat secara fisik bentuk cop busi bebek dan skubek merek Honda terlihat beda pada di ukuran panjang. Punya BeAT sedikit lebih tinggi. Ya, persis kayak Mio dengan Jupiter-Z.
Namun jika lihat lebih detail, perbedaan mencolok tampak pada karet pelindung. “Punya BeAT lebih tebal dan rapat waktu dipasang. Apalagi di bagian atas dilengkapi kuping kecil atau pelindung cipratan air,” jelas mekanik di Jl. Z, RT. 10/5, Kalapa Dua, Jakarta Barat.
Karena lebih tebal, Adung mengklaim masa pakai karet penutup di cop busi BeAT lebih lama. Sedang aslinya yang terlalu tipis gampang mengeras sehingga mudah copot. Begitu juga air, gampang masuk lewat celah yang sudah longgar.
“Untuk pasang cop busi seharga kisaran Rp 35 ribuan ini juga mudah. Caranya tinggal dipelintir cop busi lama berlawanan arah jarum jam sampai copot. Lalu diputar sebaliknya jika ingin pasang cop busi pengganti,” ingat Adung.
Dicoba, deh!
credit to abuuuud n http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/04/19/318397/208/27/Tutup-Busi-Matik-Dipakai-Bebek-Enggak-Gampang-Copot
Minggu, 26 Juni 2011
Panduan Bore-up Honda Karisma / Supra X 125
Ibarat kata selama blok silinder masih bisa dijejali piston paling gede yang ada, bila perlu piston truk sekalipun, bakal dilakoni. Urusan daya tahan, belakangan. Yang penting gengsi, bisa membanggakan performa besutan andalan.
Gbr 1
Gbr 2
Gbr 3
Gbr 4
Lantas bagaimana dengan di Honda Karisma atau Supra X125 (HSX125)? Sebesar apa seher yang bisa dijebloskan ke dalam blok silindernya?
Menurut Suar, mekanik balap Bintang Racing Team (BRT) di Cibinong, Jabar yang kenyang utak-atik Karisma maupun HSX125, blok silinder kedua bebek Honda tersebut masih bisa dijejali piston berdiameter hingga 64,5 mm.
"Yakni pakai piston Honda Tiger oversize 1.00. Kapasitas mesinnya jadi 189 cc," tukasnya. Ucapan Suar itu tak asal cuap. Pasalnya ia mengaku sudah beberapa kali menerapkannya di Karisma maupun HSX125 milik konsumen BRT.
Namun untuk bisa memakai piston Tiger itu, ada syaratnya. "Bagian yang agak menjorok ke dalam pada ruang tempat masuknya lidah tensioner (gbr.1) mesti ditambal (tambah daging). Termasuk 1/3 lubang saluran oli yang menuju kepala silinder (gbr.2)," terang Suar.
Selain itu, ruang tempat masuknya pantat boring di crank case (gbr.3) juga mesti diperbesar. Karena boring sudah pasti harus diganti dengan yang lebih gede. Jadi, dengan kata lain, kalau menerapkan piston segede itu, jelas kudu mengorbankan blok silinder ditambal sana-sini dan crank case digerus. Sayang kan?
Lalu seher sebesar apa yang tidak perlu melakukan langkah ekstrem tadi, namun tetap aman dipakai buat harian? "Bila diukur ketebalan daging blok silinder terhadap lubang saluran pelumasannya maupun bagian tepi ruang lidah tensioner, masih aman untuk dipasangi boring dengan diemeter luar hingga 62 mm (gbr.4)," jelas Suar.
Artinya, bila kita menyisakan ketebalan boring sebanyak 2 mm (ketebalan yang aman dari segi durability), piston yang bisa dijejali adalah maksimal berdiemeter 58 mm. Maka, volume silinder yang akan didapat yaitu sebesar 152,9 cc.
Piston dengan diameter segitu yang lingkar luar pin pistonnya sama kayak punya Karisma atau HSX125 (14 mm), bisa pakai milik Honda Sonic.
Makanya gak heran kalau belakangan banyak speed shop atau bengkel racing yang menawarkan paket bore-up Karisma/HSX125 menggunakan piston Sonic atau produk Izumi dengan diameter yang sama.
TIPS Meningkatkan Akselerasi (Harian)
Buat Yang nyubi ... ato yg pura2 nyubi
berhubung seringnya pengulangan pertanyaan "HSX/NSX ane enaknya diapain yah biar tarikan lumayan tp gak terlalu boros .... bla..bla...bla" yg intinya akselerasi (*lumayan) enteng ... bensin gak boros ...
Berdasarkan :
- Hasil pengumpulan data dari apa yg biasa di lakuken ngehe'ers dimarih
- Hasil interview (PM) ke beberapa Ngehe'ers yg dianggap sebagai Dr. Specialist dan atau berkompeten
dibidangnya
- Hasil praktek (*walopun saiyah pribadi ndak mempraktekan semuanya ) beberapa ngehe'ers dimarih
Berikut ini ... hal dan hil yg biasanya dilakuken untuk menaikan akselerasi HSX/NSX 125
1. Penggantian Gear (*Ratio standard 14-35)
Ada beberapa macam ratio final gear yg bisa diaplikasiken, ini beberapa yang si saiyah pernah coba
- Penggantian Final Gear dengan ratio 14-36 (*standard Supra Fit) ... rante musti di potong 2 mata
GearSet Supra Fit
Harga : IDR124000 (*klo gak salah inget )
- Penggantian Final Gear dengan ratio 14-37 (*standard Blade/ aftermarket)
khusus gear blade, tebus gearnya aja yak (depan-belakang) ... klo rantenya cari yg aftermarket ...
merk TK juga recommend ... ukuran rantenya 420 - panjang 104
buat yg aftermarket merk TK jg banyak varian rationya 14-37 pastinya ada
Gear Blade + Rante TK
Harga :
Gear Depan Blade (14) = IDR35000
Gear Belakang Blade (37) = IDR65000 - IDR80000 (*lupa pastinya )
Rante TK = IDR62500
Gear Depan TK (14) = IDR35000
Gear Belakang TK (37) = Lupa
Note : pergantian ratio gear belakang dari standard ke yg lebih tinggi ... akan mengorbanken top speed ...
(*pan katanya nyari akselerasi ) ... cucok buat dikondisi yg muacret n bertipikal Stop & Go
2. Penggantian Coil
kalau kantong masih basah ... bisa tuh ... agak dikeringin buat ganti coil ... macem2 merk coil ... ngehe'ers dimarih klo gak salah pake coil XP (160K)/ protec (240K)/ YZ 125 (375K) (*harga sewaktu2 bisa berubah tanpa info2 lagi)
3. Penggantian CDI (*khusus yg berkarbu)
Eh, kantong masih basah juga???? tebus dah tuh CDI Resing ... merk macem2 ... ada BRT ... ada
Rextor ... mau yg adjustable ada .... mau yang programmable ada .... adddaaaaa ajah ...
buat harian mah cukup yg adjustable sahaja leeeeeee
4. Tambahan Dari Dr. bill168
klu kantung masih basahhhhh lanjutttttt......
- ganti senalput yg free flow (bobokan)
- Naikin PJ (tergantung spec mesin klu mesin ga bore up ganti PJ 40 saia kira cukup )
- Porting & Polish In / Ex
- Papas Head (buat naikin kompresi biar makin nendang) atau klu ga mau papas dilepas aja
gasketnya omss truss tinggal di sealent anti panas
- Ganti Noken As Racing (rumornya komponen satu ini yg paling signifikan mendongkrak si aksel)
- Bore Up (naikin CC)
5. Tambahan Dari Dr. Arie7487
Nambahin lagi deh...
Masih kurang juga? Diatas sih udah termasuk tuning buat harian...
Kalo mau lebih lagi & punya dana lebih juga, mesin bisa diutak-atik...
6. Papas blok head sekitar 0,8 mm
ini termasuk masih ukuran aman...
Gunanya? Buat menaikkan kompresi di ruang bakar...
Bisa diikuti dengan menghaluskan kulit jeruk di dalam ruang bakar... & membesarkan aliran in & out (biasa dikenal porting & polish)...
7. Bisa ganti ukuran seher jadi oversize 50 untuk awal...
Karena merek piston dari pabrikan biasanya hanya sampai oversize 100...
Teorinya, kalo ternyata oversize kita udah 100, maka kita harus ganti blok piston...
Kalo mau lebih, merek2 aftermarket juga menyediakan buat oversize diatas 100..
Atau kanibal dari piston merek motor lain, biasanya dari kawak kaze...
Tentunya diikuti sama pembesaran boring seher...
8. Karena kompresi semakin padat & piston semakin besar ukurannya...
Biar pembakaran sempurna, bisa diikuti dengan membesarkan ukuran klep...
Bisa pakai klep punya shogun lama atau punya sonic...
Per klep juga bisa pake merek2 aftermarket buat racing...
Moga2 bisa menjawab pertanyaan, "supra x 125 gw pengen lebih kenceng nih, gimana yah caranya?"
Kalo cara2 diatas tadi masih kurang juga, "Ganti CBR 1000 aje, om!!"
klu mshh kurang dan kantong mash basahhhhh lanjuttttt...
9. Tambahan Dari Dr. cherrycola
penggantian pilot jet PJ
untuk para ngehe'ers yang karbunya masih standar boleh tuh mengganti Pilot Jet standar (ukuran 35) ke Pilot
Jet Supra X 100/Grand Keihin Ori (ukuran 38) jikalau dapet settingan yang pas, pasti maknyus larinya..
apabila pengapian udah gede, otomatis bensin akan mudah terbakar dan tenaga motor akan meningkat..
biar tenaga yang ada ngga terbuang percuma, sektor kopling bisa diutak atik biar tenaga makin maknyus dan
spontan..
untuk per kopling mereknya udh banyak dari TDR, CLD, BRT, Inspiro, DLL..
tinggal dipilih aja sesuai dengan kemauan sahaja..
per kopling sudah, kampas kopling juga bisa diganti..
merk pun banyak mulai dari TDR, CLD, BRT, dll..
kalau memang masih dirasa kurang, pake kopling manual juga boleh..
11. Tambahan Dari Dr. omheey
mau nambahin untuk per dan kampas kopling..
tiap2 merek per kopling itu beda2 ulirnya n ketebalannya.., contoh per BRT n R9, untuk yang pengen halus bisa pilih BRT tp kalo yang sentakannya doyan yang kenceng ya R9/CLD
kampas pun begitu, ada beda-beda pilihan bahan.., yang sering dijumpai memang yang kompetisi punya yang
berbahan sinter, tp ada juga yang berbahan kevlar...
cuman overall mending pake kampas n per ori aja.., kalo mo enak ya dimanualin aja, soalnya rata2 brg fast moving macam kampas n per kopling itu aftermarket biasanya memang untuk keperluan balap, jadi ketahanannya ya lebih cepet dari yang ori..
--------------------------------------------------------------------------
NOTE : bukan jualan bukan promosi ... biar ga pada tanya merk apa yg bagus ... haganya berapa
salam,
Ngehe Lu Pade !!!
credit to suhu-suhu ngehe
Baca Selengkapnye....
Sabtu, 25 Juni 2011
Ragam Pilihan CDI Aftermarket Supra X125 Mulai Teknologi Fixed, Dualband dan Adjustable
Data Performa | ||
CDI | Power Max | Torsi Max |
Standar | 10,02 dk / 6.400 rpm | 11,94 nm / 5.100 rpm |
Varro | 10,08 dk / 5.000 rom | 11,65 nm / 5.000 rpm |
BRT Dualband | 9,91 dk / 7.100 rpm | 11,48 nm / 5.100 rpm |
Rextor adjutable | 10,12 dk / 7.000 rpm | 11,62 nm / 5.100 rpm |
Varro | 021-87901768 | |
BRT | 021-8765447 | |
Rextor | 021-42876931 |